(Bekasi) – Sekretaris Komisi A DPRD Kota Bekasi, Jawa Barat, Ariyanto Hendrata, menilai sejumlah mal di wilayah setempat belum memiliki fasilitas tempat ibadah mushola yang representatif.
“Idealnya, moshola ada di setiap lantai gedung. Tidak masalah ukurannya kecil, yang penting tidak tersentral dalam satu titik,” ujarnya, di Bekasi.
Menurut dia, salah satu mal yang musholanya kurang representatif adalah Bekasi Cyber Park (BCP), Metropolitan Mal Bekasi, dan Grand Mal Bekasi.
“Mushola di BCP terletak di parkiran mobil dan menggunakan ruangan layaknya gudang. Dalam satu ruangan hanya cukup menampung sekira 20 jamaah, sehingga pengunjung terpaksa mengantre saat datang jam shalat,” kata politisi PKS itu.
Selain itu, kata dia, lokasi wudlu antara laki-laki dan perempuan ada di satu lokasi. Sejumlah pembatas antara jamaah laki-laki dan perempuan hanya menggunakan kayu tipis seadanya.
Politisi PKS itu mengaku pernah mengalami shalat di tangga darurat gedung Metropolitan Mal Bekasi, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, karena jarak menuju mushola di ‘basement’ relatif jauh.
“Ternyata tidak saya saja yang shalat menggunakan alas koran di undakan tangga pintu darurat, ada sekitar empat orang pengunjung yang bernasib sama seperti saya,” katanya.
Menurut dia, Pemkot Bekasi telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Tata Ruang yang mengatur tentang Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial (Fasos/Fasum) dimana di dalamnya diatur tentang kehadiran mushola sebagai fasilitas pengunjung.
“Memang dalam Perda itu pengembang diwajibkan menyediakan mushola yang representatif belum secara detail. Namun kedepan akan kita revisi,” katanya. (Cn)
Ikuti kami